Welcome Back

Januari 11, 2009

Para peserta studi banding dan tour ke Yogyakarta tiba dengan selamat dan penuh suka cita. Setibanya di Banjarmasin para peserta langsung pulang menuju rumah masing – masing untuk beristirahat.

Dari beberapa peserta yang kami tanya mereka berkomentar tidak terlalu capek atau lelah dikarenakan jauhnya perjalanan yang di tempuh hanya dalam waktu sekitar 2 jam sekali perjalanan.

Sungguh perjalanan yang menyenangkan! itulah kata yang terucap ketika kami tanya . Tapi komentar tersebut diakhiri dengan senyum dan berucap “Tapi melelahkan…..!!!” !Dari studi banding yang dilaksanakan terkenang pengalaman yang berharga ucap salah satu dari pembimbing studi banding dan tour kelas XII-IPA SMAN 1 Martapura.

Selamat datang kembali wahai para peserta. Semoga dengan kedatangan kalian dari menimba ilmu di Yogyakarta membawa suasana baru yang tentunya lebih baik dan lebih bagus.


Membuka file pdf lebih cepat

Januari 7, 2009

Caranya :

Buka Eksplorer. Cari tempat anda menginstall program adobe reader. Misal : C:\Program Files\Adobe\Reader 8.0\Reader

Nah kalo udah ketemu tuh cari folder yang namanya :

  • Optional
  • Plug_ins

Masuk ke kedua Folder tersebut dan hapus semua isi dari kedua folder tersebut. Tutup Window Eksplorer. Buka Program Adobe Reader. Selesai


Program & Cara Belajar

Januari 7, 2009

under construction


Banjar is Islam and…

Januari 7, 2009

t_img-1192678648Banjar or Bandar, in the begining, is the name of a small kampong in estuary of the Kuwin River-South Borneo that functioning as a small port. Kampong that led by Patih Masih, in growth hereinafter become the identity of an ethnic group and Islam empire. More than that Banjar become a distinguishing ideology that is with the existence of adagium “Islam is Banjar and Banjar is Islam.” Banjar have come to the religious and culture conception, naming Banjar is to show the difference between Islam people anda Dayak people who are not Moslem. This article wish to re-trace Banjar as distinguishing ideology by re-read the Hikayat Bandjar, and studies bearing theory that “Banjar is Islam and Islam is Banjar.”


Borneo Selatan Abad XVII

Januari 7, 2009

budaya-banjarOrang Dayak Ngaju mempunyai “sejarah sendiri” mengenai kontrak politik Pangeran Samudera, yaitu ketika munculnya desas-desus dikonversikannya Diang Lawai istri dari Marhum Panembahan , yang sesungguhnya adalah orang Dayak Ngaju beragama kaharingan. Hal itu membangkitkan kemarahan para sanak saudara Diang Lawai yang berujung pada meletusnya peperangan, seperti yang dilaporkan oleh Becker (1849:461) bahwa mulai pada sekitar tahun 1550 telah terjadi peperangan antara Dayak Ngaju dan Banjar yang berlangsung kurang lebih 20 tahun lamanya. 

Hermogenes Ugang ( 1987:202), setelah melakukan studi atas manuskrip-manuskrip yang terdapat di Zurich dan Leiden, mengatakan bahwa issue pengislaman Nyai Diang Lawai itu ternyata tidak benar. Sebenarnya perang itu terjadi karena 
salah paham dipihak orang Dayak Ngaju yang menyangka bahwa Raja Maruhum telah melanggar perjanjian pada waktu menikahi 
Nyai Diang Lawai yaitu Nyai Diang Lawai tidak boleh disunat seperti yang biasa dilakukan di kalangan orang Islam pada zaman itu. Kesalahpahaman itu terjadi karena adanya berita bahwa Nyai Diang Lawai menderita sakit akibat disunat oleh raja. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah Nyai Diang Lawai mengalami sedikit tidak enak badan karena mulai hamil muda. 

Perang karena kesalahpahaman dan sentimen agama ini sangat membekas dalam ingatan orang Dayak Ngaju. Ia menjadi ingatan kolektif yang diabadikan dalam bahasa (idiomatic expresion) dan mitos asal-usul (Panaturan). Pada masa kini, orang-orang Ngaju di pedesaan menyebut zaman lampau atau masa lalu dengan istilah Zaman Raja Maruhum Usang. Bahkan dalam sastra suci orang Dayak Ngaju yang dikenal dengan istilah Panaturan disebutkan bahwa Raja Marhum, dengan sebutan Raja Helu Maruhum Usang, dan Nyai Siti Diang Lawai, merupakan bagian dari leluhur atau nenek moyang orang Dayak Ngaju, yang setelah mereka 
meninggal dunia menjadi Sangiang (manusia ilahi) dan berdiam di salah satu bagian dari Lewu Sangiang (perkampungan para dewa) yang bernama Lewu Tambak Raja. Karena Raja Maruhum adalah seorang Muslim maka di “sorga” atau perkampungan para dewa itu disebutkan ada mesjid (lih. Panaturan, Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan, Palangka Raya 1992: 229, bdk. Nila Riwut 2003: 530, Majelis Besar Alim Ulama Kaharingan Indonesia 1972:33-42). 

Berdasarkan data-data di atas muncul satu pertanyaan “Siapa Pangeran Marhum ini?”
Baca entri selengkapnya »


“pd” vs “ekskul”

Januari 6, 2009

Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah. Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir, serta kegiatan ekstra kurikuler. Di samping itu, untuk satuan pendidikan kejuruan, kegiatan pengembangan diri, khususnya pelayanan konseling ditujukan guna pengembangan kreativitas dan karir. Untuk satuan pendidikan khusus, pelayanan konseling menekankan peningkatan kecakapan hidup sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik.

Kegiatan pengembangan diri berupa pelayanan konseling difasilitasi/ dilaksanakan oleh konselor, dan kegiatan ekstra kurikuler dapat dibina oleh konselor, guru dan atau tenaga kependidikan lain sesuai dengan kemampuan dan kewenangnya. Pengembangan diri yang dilakukan dalam bentuk kegiatan pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler dapat megembangankan kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.


Abdurrahman El Husaini

Januari 6, 2009

abdurrahmanjpegAbdurrahman El Husaini, lahir di Puruk Cahu Kalimantan Tengah, 1 Januari 1965. Di samping menulis puisi juga menulis essay sastra. Karya-karyanya tersebar di Dinamika Berita (sekarang Kalimantan Post), Banjarmasin Post, dan Radar Banjarmasin dan antologi bersama Ragam Jejak Sunyi Tsunami Departemen Pendidikan Nasional Pusat Bahasa Balai Bahasa Sumatera Utara Medan 2005, Taman Banjarbaru 2006 dan Seribu Sungai Paris Barantai 2006. Sekarang menetap di “kota intan” Martapura, Kalimantan Selatan.